Menggali Spirit Ramadhan; Jalani Puasa Tanpa Ghibah dan Hate speech

Menggali Spirit Ramadhan; Jalani Puasa Tanpa Ghibah dan Hate speech

Oleh    : Risma Dwi Fani*
Editor  : Dias Alauddin

Bulan Ramadhhan merupakan bulan yang sangat dinanti, khususnya untuk umat Islam diseluruh dunia. Euforia datangnya Ramadan pun disambut dengan berbagai cara yang meriah.

Ramadhan seakan menjadi bulan idola bagi hamba Allah yang ingin meningkatkan kualitas ibadahnya. Pada bulan ini, banyak keberkahan yang dapat dipetik ketika melakukan kebajikan. Sedetik rasanya sayang dilewatkan jika tidak melakukan amal baik.

Allah dan Rasul-Nya pun telah menjanjikan pahala yang berlipat ganda. Kalau dalam dunia bisnis kita mengenal ada istilah promo harga, maka Ramadhan dapat kita ibaratkan sebagai musim “promo pahala” dari Allah. Oleh karenanya tidak heran jika kita melihat antusiasme ibadah umat muslim pada bulan Ramadhan meningkat drastis dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Namun ini juga menjadi suatu tantangan untuk menjaga spirit ibadah di bulan ini. Tantangannya adalah mampukah kita menahan diri dari membicarakan orang (ghibah)  dan ujaran kebencian  (hate speech) di bulan Ramadan ini? Apakah spririt keberagamaannya akan masih tetap lestari, bahkan hingga diluar Ramadhan?

Sebelum pembahasan mengenai spirit Ramadhan yang harus dijaga, maka penjelasan mengenai Ghibah dan hate speech harus dijabarkan. Ghibah itu sesuai dengan hadits nabi yang mengatakan bahwa ghibah adalah membicarakan sesuatu yang tidak disukai dari orang lain.

Dalam ajaran Islam sendiri, ketika membicarakan keburukan orang lain, walau itu benar adanya maka disebut dengan ghibah dan kalau membicarakan orang lain sedangkan pembicaraan itu tidak benar maka disebut dengan bughtan (berdusta). Kalau dalam bahasa sekarang mungkin ghibah itu dapat disebut dengan gosip dan kalau bughtan mungkin lebih condong ke fitnah.

Sedangkan hate speech itu adalah ekspresi kebencian berdasarkan suku, ras, agama, kepercayaan, warna kulit, golongan yang mempunyai tendensi berupa hasutan atau permusuhan. Dimana hal ini dilakukan dengan cara mengajak atau menyebarkan kebencian dalam bentuk verbal ataupun non verbal dan atau artistik.

Di era millennial ini banyak sekali informasi yang tersebar. Dalam penyaringan informasi tersebut membutuhkan banyak pembelajaran. Perlu disadari bahwa media global ini telah mempolarisasikan individu-individu. Sesuatu yang menurut kita tidak cocok itu, walaupun itu kemungkinan benar adanya terkadang kita lebih cenderung tidak setuju, objektivitas kita perlahan memudar.

Provokasi hate speech menjadi PR yang perlu diselesaikan apalagi jika tidak biasa menggunakan media sosial secara bijak, akan cenderung termakan isu yang berbedar. Tidak memilah apakah ini sumbernya jelas atau tidak, langsung menggerakan jari untuk mebagikannya ke laman milik pribadi atau grup, yang bisa dilihat khalayak ramai, hingga memiliki efek lanjut.

Apapun itu, diumpamakan dalam al-Qur’an kalau orang yang berburuk sangka itu seperti makan daging bangkai saudaranya sendiri. Seperti yang diungkapkan dalam Q.S. Al-Hujurat: 12 “wahai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya prasangka itu dosa. Janganlah kalian mencari-cari kesalahan, jangan kalian saling menggunjing, apakah kalian senang jika makan daging bangkai saudaranya, bukankah kalian membencinya? Takutlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menerima taubat dan maha penyayang”.

Walaupun objektivitas perlahan menjadi bias, tetapi di bulan Ramadhan ini merupakan bulan untuk introspeksi diri atau yang biasa disebut muhasabah. Ada hadits nabi diriwayatkan dari al Bazar yang artinya “berbahagialah orang yang disibukan oleh aibnya sendiri dan tidak mencampuri aib orang-orang lain”. Ketika kita disibukan dengan introspeksi diri, kita akan hilang fokus dalam mengurusi keburukan lain.

Terbebas dari Ghibah dan Hate speech: Sebuah Harapan Kedepan

Jika ditelisik dari segi kenegaraan, disadari sekali kalau kita ini berdiri diatas Negara NKRI yang disitu ada satu payung bersama yakni asas Pancasila. Negara ini tidak hanya dimiliki oleh satu agama, satu ras, ataupun satu golongan melainkan dari banyak agama, ras dan golongan yang ada dari sabang sampai merauke.

Disetiap agama pun, ada ajaran moral dan tata hidup bagaimana orang-orang dapat menjalani kehidupan dunia, mengajarkan kebaikan bagi setiap pemeluknya. Pada intinya, agama itu mengajak bagi setiap individu agar dapat mengendalikan diri.

Jadi, yang paling penting adalah ketika kita melakukan sesuatu kita harus melihat efek apa yang akan ditimbulkan. Kalau menurut bijak bestari seperti ini, ‘perlakukan lah orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan’, dalam artian jika kita tidak ingin disakiti, maka jangan menyakiti.

Oleh karena itu, mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai titik awal untuk tidak melakukan hal-hal yang tercela. Mari bersama-sama berusaha dan berdoa agar ruh (spirit) ibadah yang kita pupuk selama sebulan penuh di bulan Ramadhan ini dapat kita petik setelah Ramadan berlalu. Semoga kita selalu mampu menjaga perdamaian di muka bumi ini, dengan dimulai dari menjaga perkataan.


*penulis adalah Sekertaris Pelita Perdamaian dan Alumni Youth Interfaith Camp (YIC) 2015.

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan