Belajar Etika Kemanusiaan dari Nabi Muhammad Saw

Belajar Etika Kemanusiaan dari Nabi Muhammad Saw

sumber foto : kepalan

Oleh   : Fachrul Misbahudin*
Editor  : Dias Alauddin 

Islam memandang semua manusia sebagai ciptaan terhormat. Melarang kezaliman kepada siapapun, dengan segala latar belakang apapun yang berbeda dengan kita.

Hal seperti itu ditunjukan oleh bagaimana cara Nabi Muhammad Saw melakukan interaksi sosial dengan orang yang menentang, melawannya, dan mengingkarinya. Cara Nabi adalah tidak pernah merendahkan manusia atau mengurangi hak-haknya. Nabi memperlakukan manusia sebagai manusia yang harus dihormati. Sepanjang dia manusia apapun latar belakangnya, apapun agamanya, apapun etnisnya, apapun bahasanya Nabi memperlakukan ia sebagai manusia.

Selama 40 tahun lamanya Nabi diakui oleh bangsa Arab sebagai orang yang dipercaya. Tetapi ketika Nabi hendak menyebarkan agama Islam justru banyak yang memusuhi Nabi, banyak orang yang mengingkari kenabiannya.

Pertanyaanya kenapa ? Kenapa ada orang yang baik justru dimusuhi ? Kenapa ada orang yang berbudi luhur banyak yang mendustakan bahkan mencaci maki Nabi ?Jawabannya ada dua hal mengapa orang memusuhi bahkan membencinya. Pertama dengki. Ada banyak sekali faktor mengapa orang mendengki orang lain. Bisa karena orang itu mendapat kedudukan tinggi maka timbul rasa dengki terhadap yang dibawahnya. Karena Terusik, atau bisa juga karena tidak suka melihat kebahagian orang lain.

Kedua, karena ketidaktahuan. Mereka yang melakukan tindakan membenci, memusuhi, mencaci maki, menyebarkan hoax, menyalahkan orang lain dan hal negatif lainnya. Itu merupakan tindakan  karena ketidaktahuan dirinya terhadap orang lain sehingga mereka melakukan tindakan membenci, memusuhi dan sebagainya.

Dalam suatu riwayat, Imam Muslim menceritakan bahwa Qois bin Saad dan Sahal Khunen, keduanya ada di daerah Qodisia dekat Persia. Kemudian ada rombongan yang membawa jenazah melewati mereka, maka mereka berdiri. Kemudian ada orang yang bertanya “hai Qois dan Sahal itu adalah jenazah orang Yahudi kenapa kalian berdiri?” Mereka menjawab, bahwa dahulu ketika bersama Nabi Muhammad saw, pernah juga bertemu dengan jenazah orang Yahudi maka kemudian Nabi berdiri. Ketika ditanya “kenapa berdiri ya Rasul?” Nabi menjawab “bukankan dia manusia”.

Dari hadis tersebut menegaskan bahwa Nabi  menghormati manusia yang hidup maupun yang mati. Sepanjang sejarah kehidupannya, beliau telah memberikan pelajaran yang sangat berharga menjadi tokoh sentral sebagai panutan umat manusia. Sehingga apa yang ditampilkan Nabi baik perkataanya, tindakannya, sepenuhnya mengandung kesempurnaan.

Ini kemudian menjadi warisan yang patut dijadikan contoh kepada umat manusia untuk menghormati dan menghargai orang yang berbeda. Nabi bergaul tetap menggunakan etika yang luhur dengan walaupun terhadap orang yang menghinanya.  Cara yang sangat genuin ini, menegaskan bahwa fungsi kerasulannya adalah diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Betapapun setiap orang berbeda keyakinan dan prinsip-prinsipnya. Kita tetap perlu menghormati kemanusiaan mereka. Karena keberbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Pluralitas adalah sesuatu yang niscaya, tidak bisa dihindarkan dan merupakan kehendak Allah. Kalau kita menentang pluralitas berarti sama saja kita menantang Tuhan.


*Penulis adalah pengurus Pelita Perdamaian departemen Media dan Publikasi.

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan