Filsafat Kebahagiaan

Filsafat Kebahagiaan

Oleh : Rosidin, M.Hum (Ketua Program Studi Filsafat Agama ISIF)

Pelita Perdamaian – Hampir semua orang sepakat menginginkan untuk bahagia. Tapi ekpresi dan cara untuk bahagia berbeda-beda.

Setiap orang memiliki konsep kebahagiaannya masing-masing. Akan tetapi, permasalahannya, apakah setiap orang sempat memikirkan konsep kebahagiaan yang ia miliki secara lebih mendalam ? Apakah konsep kebahagiaan yang ia pegang, sungguh-sungguh membawanya pada kebahagiaan sejati atau sebaliknya, kebahagiaan semu yang justru akan menjerumuskannya dalam kedangkalan dan ketidakbahagiaan.

Dalam pemikiran Aristoteles, kebahagiaan sejati mesti berasal dari batin yang telah dididik. Oleh karena itu pendidikan batin pun sebisa mungkin dimulai sejak dini. Pendidikan yang baik tidak membiarkan seseorang berkembang “sesuai seleranya sendiri”, tetapi perlu dibuka dimensi hati agar seseorang merasa bangga dan gembira apabila ia berbuat baik, sedih dan malu apabila melakukan sesuatu yang buruk. Melalui perasaan-perasaan itu seseorang tanpa paksaan belajar berbuat baik dengan gampang dan menolak dengan sendirinya yang jelek atau memalukan.

Pusing, ya hal sederhana tentang senang, sedih harus dibaca dengan cara “njlimet”. Padahal kalau anda senang, senang aja. Kalau anda sedih, sedih aja. Tinggal kita mencari sesuatu yang membuat kita bahagia dengan cara bahagia juga dan tidak merugikan orang itu yang penting.

@Source akun Facebook Rosidin 25 Februari

 

Tinggalkan Balasan