Konsisten Tingkatkan Keilmuan Atasi Persoalan Kekinian *Alumni Lintas Generasi PPMM Gelar Ngaji Bulanan*

Konsisten Tingkatkan Keilmuan Atasi Persoalan Kekinian *Alumni Lintas Generasi PPMM Gelar Ngaji Bulanan*

Para alumni lintas generasi Pondok Pesantren Miftahul Muta’allimin (PPMM) Babakan Ciwaringin Cirebon sedang mengaji kitab Syarah Hikam. Di Pon-Pes Assalam Desa Kebon Danas, Kecamatan Pusaka Jaya, Kabupaten Subang. Minggu (8/4).

Editor : Winarno Ariel 

Pelita Perdamaian, SUBANG – Alumni lintas generasi Pondok Pesantren Miftahul Muta’allimin (PPMM) Babakan Ciwaringin Cirebon menggelar pengajian bulanan ke-16 yang bertempat di Pon-Pes Assalam Desa Kebon Danas, Kecamatan Pusaka Jaya, Kabupaten Subang. Minggu (8/4).

Pengajian bulanan ini rutin digelar setiap bulannya tepatnya di minggu kedua. Dan kali ini pengajian bulanan ke-16 membahas kitab Syarah Hikam yang dibacakan oleh pengasuh PPMM yaitu KH. Syarif Abubakar Yahya dan kitab Risalatul Mu’awwanah yang dibacakan oleh alumni yaitu KH. Sya’roni Syakur.

Dan pengajian bulanan ini dihadiri sekitar 80 orang, terdiri dari 45 dari unsur alumni, 5 pengurus pesantren dan 30 masyarakat setempat serta santri.

Ketua Biro Alumni PPMM Babakan Ciwaringin, Ahmad Rifqi mengatakan, pengajian ini sebagai ajang silaturahmi antar almuni dari angkatan yang berbeda. Namun disisi lain, kegiatan ini untuk meningkatkan kapasitas keilmuan alumni dalam menjawab persoalan-persoalan kekinian yang ada di masyarakat.

“Setidaknya alumni yang menjadi tokoh agama ataupun tokoh masyarakat yang berkiprah di masyarakat tentunya bisa memiliki ruang hidup. Sehingga tidak gamang dalam melihat realitas hidup yang tidak lagi homogen,” kata Rifqi, mantan Sekretaris Pelita Perdamaian tahun 2011-2012.

Sementara itu, KH. Sya’roni Syakur menjelaskan, mengutip Imam Al- Ghazali bahwa pintar-pintarlah membagi waktu untuk beribadah dan bekerja. Ketika bekerja seseorang harus diniatkan beribadah, niscaya dia menjadi zikir, akan tetapi sebaliknya bekerja tanpa ada niatan berzikir kepada Allah ini akan menjadi sia-sia.

“Seperti perkataan Almagfurllah KH. Masduqi Ali apakah ada orang yang bisa siang dan malam waktunya dihabiskan untuk berdzikir,” tanya KH. Sya’roni.

Untuk itu, dirinya berpesan agar aktifitas pekerjaan apapun, maka diniatkan juga untuk berzikir dengan mendekatkan diri kepada Allah. Apabila hal itu dilaksanakan, kata dia, maka seseorang tersebut akan mendapat dua keutamaan, yaitu keutamaan zikir dan keutamaan bekerja untuk menafkahi keluarga.

Dadi menusa iku kudu nerima aja dadi wong kang asor (Jadi seseorang itu harus menerima tapi jangan menjadi orang yang rendah),” kata KH. Sya’roni ketika menyampaikan pesan dengan mengutip perkataan Almagfurllah KH. Masduqi Ali ketika perjalanan satu kendaraan dari Cirebon-Subang.

Berbeda, KH. Syarif Abubakar Yahya membacakan kitab Syarah Hikam dengan metode bandungan/halaqoh (metode pembacaan kitab kuning dan pemaknaan kitab dengan arab pegon). Menurutnya, pengetahuan tentang ma’rifat billah seharusnya tak dipermasalahkan dengan perilaku.

“Jika Allah sudah berkehendak memberikan anugerah kepada sesorang tersebut dengan pengetahuan ma’rifat maka ia akan menjadi arif,” tuturnya.

Dia menerangkan, ma’rifat itu tidak bisa ditentukan oleh kekuatan beribadah seseorang. Sekeras apapun seseorang tersebut melakukan zikir, puasa, ataupun salat, hal itu tidak menjamin menjadi ma’rifat, karena ma’rifat adalah kehendak Allah bukan kehendak manusia.

Dia juga mengkritik di era digital ini banyak orang yang menyalah-nyalakan kiai. Padahal pengetahuanya hanya diperoleh lewat google bukan melalui tradisi pesantren yang kaya dengan literatur dan tradisi berdasarkan sanad mata rantai keilmuan yang sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

“Seperti kasus penghinaan kepada KH. Dr. Ma’ruf Amin sebagai Ketua Umum majelis ulama Indonesia (MUI) yang juga Rais Aam Syuriah PBNU seorang ulama yang ‘alim dan ‘allamah, faqihun fiddin mutawarri’, dan al-muslih li ahwalil ummah memberikan saran untuk memaafkan pembacaan puisi oleh Sukmawati Soekarnoputri.

“Alumni dan santri yang berakhlak mulia jangan ikut-ikutan terhadap perilaku mereka yang suka menyalahkan Kiai,” pesan Kang Abub sapaan akrabnya KH. Syarif Abubakar Yahya. (DEVIDA)*


*Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Miftahul Muta’allimin Babakan Ciwaringi Cirebon (PPMM), Pendiri dan Mantan Ketua Umum Pelita Perdamaian Periode 2011-2015.

Tinggalkan Balasan