Marah dan Benci itu Sakit

Marah dan Benci itu Sakit

sumber foto : pelitaperdamaian.org

oleh : KH. Husein Muhammad (Dewan Pembina pelita perdamaian)

Putri guruku yang cantik, Ienas, tampak begitu lelah. Ia lelah menjelaskan kebenaran yang ada pada ayahnya. Ia mengetahui dengan tingkat “Ainul Yaqin”, di atas “Ilmul Yaqin”. Ia tahu dengan mata kepala dan matahatinya bahwa ayahnya tidak mengatakan “hal puisi itu”. Tetapi serangan tak percaya kepadanya secara bertubi-tubi, melalui kata-kata kasar dan tak sopan membuat hatinya luka. Ia sampai menulis judul di timeline miliknya : “Hilangnya Akal Sehat”. Ini kata dengan ruh sakit. Aku hanya bilang : “Tinggalkan bicara dengan orang yang sedang marah, karena tidak akan engkau temukan kejernihan pikirannya”.

Berikutnya aku tulis di komen : “jaga kesehatan pikiran, mbak. Sakit tubuh lebih banyak akibat pikiran yang sakit”.

Entah sudah berapa bulan ruang maya dipenuhi lalu lalang suara-suara dan nada-nada kemarahan dan kebencian manusia atas manusia. Ekspresi-ekspresi kemarahan dan kebencian itu muncul dalam rupa tulisan di berbagai ruang sosial. Begitu mudahnya orang memuntahkan kemarahannya terhadap orang lain yang tidak disukainya, meski untuk hal-hal sepele. “Sedikit-sedikit marah”. Ada apakah gerangan? Dan mengapa bisa jadi begini?.

Lalu apakah kemarahan itu?.

(Jika aku menyebut kata “marah” atau “al-Ghadhab” di sini, maka itu marah yang buruk. Bukan marah yang baik atau marah sayang. (Jangan tanya yang baik ya?. He he).

Ada banyak definisi yang dibuat orang. Antara lain “Marah adalah refleksi psikologis yang diakibatkan oleh darah yang mendidih karena adanya ancaman yang bisa menghilangkan kenyamanan dan kesenangan diri.

Dengan kata lain refleksi penolakan yang muncul dari situasi jiwa yang terancam. Ini menurut kacamata psikolog.

Imam Al-Ghazali dalam “Ihya”, kitab yang terkenal itu, menyatakan  :

إن الغضب شعلة نار  ا قتبست من نار الله الموقدة التي تطلع على الأفئدة, وإنها لمستكنة  في طي الفؤاد.  استكنان الجمر تحت الرماد

“Marah adalah nyala api yang dipetik dari api neraka yang naik ke ulu hati di dalam dada. Api itu terpendam dalam lipatan hati, sebagaimana bara api yang menyelinap di bawah abu”.

Marah yang tak terkendali akan berkembang menjadi agresi, kekerasan dan tindakan destruktif lainnya.

Aku telah merenung panjang. Aku menemukan bahwa marah membenci orang telah menyia-nyiakan begitu banyak waktu, menghabiskan energi secara percuma dan malah membuat diri sendiri sakit dan menyakiti orang lain. Bahkan dunia sekitar menjadi buram muram. Wajah-wajah jadi kusam dan masam. Tak bercahaya.

Aku merenung panjang sambil sesekali mendesah. Masyarakat ini akan mengalami stress, depresi, kegilaan dan tanpa produktifitas, manakala mereka masih saling berburuk sangka, merendahkan, marah, mencaci-maki dan membenci.

Tetapi betapa indahnya hidup dan kehidupan ini jika pikiran dan energi masyarakat dikerahkan untuk kerja-kerja yang baik, saling membagi manfaat dan kebahagiaan bagi dunia manusia dan alam.

Hidup dan kehidupan ini akan menjadi indah dan bercahaya, manakala manusia saling bicara jujur dan santun, saling mengasihi, berbaik sangka dan membantu dengan tulus.

 


*Dari Akun Facebook Husein Muhammad pada tanggal 4 April 2018.

Tinggalkan Balasan