Memilih Takdir Dengan Konsepsi Al-Qur’an

Memilih Takdir Dengan Konsepsi Al-Qur'an

sumber foto : IDN Times

Oleh : Santoso Nashirudin*

 PELITA PERDAMAIAN – Allah Swt telah mendefinisikan seluruh aktifitas kehidupan Rasulullah Saw, baik ucapan, perbuatan dan diam-nya (tanda kebolehan atau mubah) dengan firman-Nya:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4

dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), QS. An-Najm (53): 3-4.

Pernyataan al-Qur’an yang kita kutip di atas, menjelaskan kepada kita bahwa, apa saja yang beliau Saw sabdakan, baik itu berkaitan dengan masa lampau, sekarang dan atau masa yang akan datang bukan seperti ucapan manusia biasa yang tanpa makna. Melainkan sebuah informasi yang sarat hikmah sekaligus mengandung sinyalemen dan penyingkapan bahwa “peradaban” dan “kebudayaan” umat manusia telah “terkonsepsikan” dalam al-Qur’an dengan bentuk kisah-kisah orang terdahulu, yang dimungkinkan akan terus berulang.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Peradaban, didefinisikan dengan, 1. Kemajuan lahir batin; 2. hal yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa. Maka secara sederhana dapat disimpulkan ini berkaitan dengan “pola-pikir” yang tentunya bersifat dinamis, berkembang sesuai dengan tingkat pendidikan, pengalaman, kedewasan, dan yang pasti bersifat adaptable dan transformative dalam merespon stimulant yang muncul hingga mencapai proporsinya.

Sedangkan kebudayaan atau bu·da·ya, didefinisikan sebagai,1. pikiran; akal budi; 2. adat istiadat; 3. sesuatu yg sudah berkembang (beradab, maju); 4.sesuatu yg sudah menjadi kebiasaan yg sudah sukar diubah. Dapat disederhanakan ini berkaitan dengan perbuatan atau “pola-laku” yang sudah menjadi kebiasaan seseorang atau masyarakat tertentu yang sulit untuk dirubah, artinya lebih bersifat monoton, dianggap mapan.

Geliat kehidupan yang semakin liar disertai perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih dan mengglobal, seakan-akan dunia hanya segenggaman tangan nyaris dapat diakses oleh siapapun, di mana pun, dan kapan pun. Sehingga sekat teritorial antar Negara seakan tidak berlaku, berbaur, berinteraksi, saling mempengaruhi dan boleh jadi akan berasimilasi, sehingga memungkinkan lahir peradaban baru yang lebih ideal dan akomodatif.

Di sisi lain, ada sikap sebagian masyarakat yang merasa alergi dengan datangnya sesuatu yang baru (asing), karena khawatir akan dapat merusak tatanan yang selama ini dianggapnya sudah mapan, khususnya terkait keyakinan agama yang sudah tertradisikan sejak lama.

Benar, ada sisi positif maupun negatifnya. Namun demikian, tidak sepatutnya kita khawatir terhadap sesuatu yang dianggap baru atau karena baru dikenalnya, sehingga disikapi berlebihan dengan menutup diri tidak mau tahu, kemudian mengisolasi diri dari kehidupan sosial masyarakat yang ada. Itu bukan solusi terbaik, cepat atau lambat pasti akan terimbas juga.

Budaya dan peradaban yang selama ini kita anggap sebagai mapan dan final, padahal belum teruji dan terbukti kekokohannnya, kecuali “konsepsi”-nya belaka. Sedangkan semua itu pada hakekatnya “pengulangan” sejarah masa lampau dengan waktu dan personifikasi aktor yang berbeda (baru), namun substansi dan temanya sama saja.

Sebagai contoh, al-Qur’an menjelaskan di zaman dulu ada seorang raja yang kejam dan ditaktor, yaitu Fir’aun. Menurut sebagian ulama dan para ahli, Fir’aun yang disebutkan dalam sejarah mungkin saja akan terulang kembali, walaupun tidak secara fisik. Melainkan dalam bentuk karakteristik, yang tercermin pada para penguasa yang muncul di zaman ini, atau yang akan datang. Inilah yang dimaksud sebagai “rekonstruksi ayat” atau berulangnya substansi sejarah.

Tidak selamanya yang baru kita ketahui itu sebagai sesuatu yang benar-benar “baru”, bahkan mungkin sesuatu itu sebenarnya sudah lama “eksis”, namun baru kita sadari sekarang. Karena itu, jangan lihat siapa yang membawa dan yang mengatakan-nya, tapi lihatlah apa yang dibawa dan dikatakan-nya. Jika yang dibawa dan dikatakannya itu baik, apa salahnya kalau kita kemudian kita cermati kemudian kita timbang dengan ilmu serta kejujuran iman. “Ambillah kebaikan (al-Hikmah) itu di mana saja kalian temukan, karena pada hakekatnya ia adalah milik Islam yang telah hilang.” (al-Hadits).     

Sebagian  orang mungkin berpendapat, kalau semua kejadian itu benar-benar telah terkonsepsikan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, untuk apa kemudian kita bersusah payah dan berusaha? Benar, semua sudah ter-konsepsikan dengan kokoh. Namun demikian, bukan dimaksudkan untuk “mengcover” atau mengekang perilaku setiap orang, sehingga seseorang tidak boleh memilih sesuatu yang menjadi keinginannya, dan harus tunduk pada apa yang sudah di-konsepsi-kan sebagaimana yang difahami oleh kaum Jabariyyah (determinisme atau keterpaksaan).

Bukan itu maksudnya, “konsepsi” di sini, terkait dengan substansi, nilai dan watak, bukan pada perbuatan lahirnya. Justru dengan memahami “konsepsi” sejarah itulah kita akan dapat memilih, menentukan dan mengarahkan perilaku kita, tegasnya kita mau jadi pelaku sejarah “kebaikan” atau “keburukan”? Semua itu kita sendiri yang menentukan pilihannya, inilah yang diistilahkan sebagai “memilih takdir”.


*Penulis adalah Aktivis Pelita Perdamaian.

 

 

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan