Paham Radikal: Jihad atau Ke zaliman

Sumber Foto : Ilustrasi Terorisme/aktual.com

Oleh    : Haryono*
Editor   : Dias Alauddin

Pelita Perdamaian – Tahun 2018 merupakan tahun politik bagi masyarakat di Indonesia karena sebagian besar wilayah di Indonesia melakukan Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) serentak. Banyak sekali isu-isu yang di gulirkan oleh para politisi dalam menghadapi Pilkada tahun ini. Apalagi di tahun selanjutnya yaitu tahun 2019 Indonesia akan melakukan pemilihan Presiden (Pilpres). Hal itu membuat masyarakat Indonesia dimanapun tempatnya selalu memperbincangkan masalah Pilkada dan Pilpres. Isu pangan, isu infrastruktur, isu ganti Presiden, sampai isu ricuhnya Mako Brimob, ramai diperbincangkan masyarakat Indonesia terlebih para politisi.  Semua isu tersebut menjadi bahan obrolan mayoritas masyarakat Indonesia.

Di tengah maraknya isu politik, masyarakat Indonesia di gemparkan oleh meledaknya bom bunuh diri di 3 gereja dan markas Polrestabes di Surabaya dan di Sidoarjo. Peristiwa meledaknya bom bunuh diri yang membanjiri media sosial bukanlah sebuah kebetulan. Ini menjadi peringatan bagi kita semua bahwa dalam kehidupan kita di Indonesia masih ada yang lebih penting dari memperbincangkan politik semata, yaitu kemanusiaan. Bom bunuh diri tersebut sangat memukul hati semua masyarakat Indonesia, pasalnya aksi tersebut membuat masyarakat Indonesia resah.

Selama tahun 2018 ini bom bunuh diri sudah banyak terjadi, bom bunuh diri di Jogja pada bulan Februari di gereja St. Lidwina. Pelaku merupakan orang Banyuwangi dan dianggap sebagai orang yang terganggu kejiwaannya oleh pihak berwajib (Polisi). Kini terjadi peristiwa yang sama, namun sekarang lebih ganas dan mengerikan karena dalam sehari, pada Minggu (13/5), bom bunuh diri terjadi di 3 tempat  yang bersamaan waktunya, yaitu gereja Katolik Ngagel pada pukul 07.15 WIB, GKI Diponegoro pukul 07.59 WIB, dan GPPS Arjuno pukul 08.06 WIB. Setelah bom tersebut malam harinya yaitu pukul 20.00 WIB, di susul dengan bom yang terjadi di rumah susun (rusun) Wonocolo Sidoarjo.

Belum usai ketakutan masyarakat Indonesia khususnya di Jawa Timur mereda, masyarakat Indonesia masih saja di kagetkan dengan aksi bom di markas Polrestabes Surabaya yang terjadi esok paginya, (14/05) sekitar pukul 08.50 WIB. Rentetan peristiwa tersebut menurut Menurut Kombes Pol Frans Barung telah menelan korban 17 orang. Dari 17 orang yang meninggal itu, 14 orang meninggal atas peristiwa bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya (baca:kompas.com).

Dari peristiwa diatas kita bisa melihat bahwa soal kemanusiaan tidak ada dalam diri seorang teroris. Dengan alasan apapun, misal alasan agama yaitu sebagai jihad tapi itu semua bisa dipatahkan karena dalam ajaran agama baik Islam, Kristen, Katolik, Budha , Hindu dan lain sebagainya tidak ada yang mengajarkan bahwa merenggut nyawa orang lain merupakan sebuah ibadah atau sebagai ajaran syariat agama. Semua agama mengajarkan kasih sayang, kedamaian, dan kemanusiaan.

Dalam konteks Indonesia yang beragam perbedaan, kita seharusnya bisa menjadikan perbedaan ini sebagai rahmat dan kekuatan besar dalam membangun bangsa. Jika di Indonesia masih banyak teroris yang merajalela artinya kita sebagai bangsa yang besar masih dipertanyakan. Bangsa yang besar merupakan bangsa yang bisa saling gotong royong membangun negaranya dan mampu mengelola keberagaman menjadi satu kekuatan besar.

Aksi teroris yang terjadi sampai kapanpun tidak bisa dibenarkan karena kita orang Indonesia mempunyai  semboyan ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Oleh karena itu teroris adalah musuh bersama yang harus kita perangi. Teroris bukanlah ajaran agama tapi bentuk dari kedzaliman yang paling nyata.

Dengan demikian peristiwa bom bunuh diri diatas seharusnya bukan menjadikan kita takut ataupun resah. Tetapi marilah kita merajut kembali rasa kemanusiaan kita sesama anak bangsa. Kita kokohkan barisan untuk menolak aksi-aksi yang mengajarkan kekerasan terhadap orang lain atau kelompok lain. Mulai saat ini kita harus lebih sadar dan memperhatikan keadaan sekitar kita, jangan sampai peristiwa ini terulang kembali di masa yang akan datang.


*Penulis Adalah Ketua Umum Pelita Perdamaian 2018-2020 dan Alumni Youth Interfaith Camp (YIC) 2018.

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan