Pertemuan Bulanan ke-39: Puasa Warga Cirebon, dari Obrog hingga Buka Puasa Lintas Agama

Pertemuan Bulanan ke-39: Puasa Warga Cirebon, dari Obrog hingga Buka Puasa Lintas Agama

Oleh: Hasyim Al-Habsyi

PUASA Ramadhan merupakan kewajiban yang dititahkan Tuhan kepada umat Islam, sebagai sebuah kepatuhan dalam menjalankan syariat Nabi. Puasa memiliki relasi yang begitu personal, dan tentu saja intim dengan-Nya manakala nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diejawantahkan dalam aspek kemanusiaan. Di ujung hari menjelang Ramadan di tahun ini, berakhir sudahkah ritus puasa kita menyublim dalam ritus kesalehan sosial pada kehidupan sehari-hari?

Sebagai sebuah kewajiban dalam menjalankan syariat Islam, puasa Ramadan hadir setiap tahunnya menjadi sebuah ritus yang begitu sakral dan bernilai dalam aspek keimanan. Karena letak keimanan sesungguhnya terdapat dalam relasi antara manusia dengan Tuhan yang tak mudah disingkap. Adakalanya kita perlu sedikit-banyaknya merefleksikan betapa puasa kita hari-hari ini merupakan sesuatu yang betul-betul profan, agar tidak lantas menjadi ‘kegiatan wajib’ belaka. Profanitas sebuah ibadah, dalam konteks ini puasa Ramadan, bagi penulis, yakni ketika ibadah kepada Tuhan terimplemtasikan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Kegelisahan ini berangkat di tengah-tengah fenomena buka bersama (bukber) yang digemari dan menghinggapi semua kalangan, dari anak SD sampai orang tua, sebagai sebuah habitus, dalam kacamata Pierre Bordieu, yakni saat nilai-nilai sosial sudah begitu terpola yang dijalankan orang tanpa disadari menjadi apa yang biasa disebut kebiasaan. Meski terkadung nilai silaturahmi di dalamnya, maka sudah semestinya ia meninggalkan jejak yang cukup bernilai bagi masyarakat, menyemaikan tradisi lokal, misalnya.

Tradisi Lokal Puasa di Cirebon

Pada setiap tahun, Pelita Perdamaian menyelenggarakan kegiatan buka puasa bersama yang mengusung tema puasa dilihat dan dihayati dari perspektif agama dan kepercayaan. Dengan pendekatan, sesungguhnya puasa hendak dilihat sebagai nilai bersama yang memampukan titik pertemuan, kalimatun sawa, pada setiap perbedaan yang ada. Dengan begitu, tempatnya pun diadakan tidak hanya di masjid sebagai simbol umat Islam, tetapi berkeliling ke tempat ibadah lain seperti Gereja, Vihara, Pure dan sebagainya.

Di tahun ini, pada 20 Juni 2017 bertempat di Gereja Kristen Perjanjian Baru, dengan mengusung spirit kearifal lokal warga Cirebon, yang tentu saja berbeda dari tahun sebelumnya, penulis hendak mengemukakan sebuah gagasan yang terdapat dalam temuan pada kehidupan riil warga Cirebon.

Pertama, tradisi obrog-obrog. Obrog adalah sebuah tradisi masyarakat Cirebon (hampir seluruh jalur pantura, seperti Indramayu) untuk membangunkan sahur dengan menggunakan alat-alat musik sekadarnya.
Sependek pengetahuan penulis belum ada sumber yang jelas yang menjelaskan kapan lahirnya tradisi obrog ini, tetapi ada beberapa sumber yang menceritakan bahwa obrog ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Bahkan menurut beberapa sumber, obrog digunakan sebagai cara untuk memata-matai tentara belanda pada waktu malam hari.

Pada awalnya obrog hanya menggunakan kentongan (alat musik dari bambu) yang dipukul secara beramai ramai, tetapi dengan perkembangan zaman maka berkembang pula lah alat musik yang digunakan, seperti gitar, piano, dan sound.

Yang menarik ketika kita “berisik” pada waktu malam selain di bulan Ramadan, maka pastinya mengganggu dan dimarahi oleh warga atau bisa jadi dihakimi masa. Tetapi jika kita “berisik” pada malam-malam Ramadan, hal itu dibiarkan terjadi. Dalam kacamata toleransi saya melihat ada rasa legowo atau berbesar hati kepada warga yang “berisik” di tengah malam tersebut. Kalau kita berfikir sejenak, apa yang dirasakan oleh warga non-muslim ketika harus terusik lelap tidurnya?
Penulis mendapat jawaban yang menarik dari seorang kawan yang beragama Budha, surya Pranata. Beliau mengatakan, “justru dengan adanya obrog membawa berkah kepada kami, yaitu rasa aman dari maling atau pencuri,” ungkapnya.

Saya sendiri pernah membayangkan bagaimana jika warga non-muslim ini bersama-sama menggelar aksi demo menuntut dan mengutuk “berisiknya” orang-orang muslim, dengan berterika #savetelinga. Tetapi Ada angin segar yang coba dihembuskan oleh pak Surya, kira kira begini, “silahkan saja berisik, toh kita saudara, malah motor dan mobil kami jadi aman”.

Kedua, suatu ketika di salah satu daerah di kota cirebon, penulis melihat obrog-obrog menggunakan alat musik yang biasa digunakan saat pagelaran Barongsai. Perlu diketahui barongsai adalah sebuah kesenian tradisional berupa tarian yang berasal dari masyarakat Tionghoa, dan tentunya memiliki sejarah yang panjang, sehingga bisa masuk ke Indonesia. Alat musik yang biasa digunakan untuk mengiringi tarian barongsai ialah drum, gendang, simbal, gembreng, kemong atau gong.

Menurut kawan penulis yang keturunan tionghoa, setiap ketukan yang dibunyikan memiliki makna tertentu, seperti memanggil naga atau hal-hal mistis. Pertanyaan yang terpintas dibenak Penulis., “lho terus ini kok malah dipakai buat bangunin sahur? Apa jangan-jangan meminta bantuan naga dari langit untuk membangunkan warga yang susah dibangunkan atau bagimana? Lagi-lagi terlihat ada peleburan dan penyatuan yang menunjukan keberagaman keyakinan, kesenian, dan kebudayaan masyarakat cirebon.

Ketiga, bukber lintas agama dan keyakinan. Di poin ketiga ini, walaupun bukan berangkat dari kearifan lokal atau tradisi cirebon, tapi penulis menganggapnya penting untuk tuliskan, minimal tradisi bukber ini menunjukan wajah asli Cirebon dan tentunya Indonesia.

Bukber lintas iman yang digagas oleh Pelita perdamaian sudah dilakukan selama lima tahun. Walaupun terbilang baru, tapi setidaknya gerakan ini yang selalu mengawal keberlangsungan dari keberagaman yang ada.

Penulis berharap bukber yang diinisiasi oleh pelita perdamaian akan terus berlangsung setiap tahunnya, selain menjadi ajang silaturahmi antar pemeluk agama dan keyakinan yang berbeda, bagi saya, bukber ini menjadi wadah untuk kita menyatukan kepingan-kepingan cermin kebenaran yang jatuh dan pecah di bumi ini. Sedikit menyitir perkataan Jalaluddin Ar-rumi, “Kebenaran adalah sekeping cermin di tangan Tuhan, jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan-kepingan itu”.
Dari sinilah, kita akan memahami betapa kesalehan sosial pada setiap puasa Ramadhan bisa dimulai. Beginilah puasane wong cerbon, bagaimana puasa di kotamu?


*Penulis adalah Koordinator Riset Pelita Perdamaian dan Mahasiswa IKMI Cirebon.

dimuat di sini 

Comments Closed

Comments are closed. You will not be able to post a comment in this post.