Tentang Pelita

PROFIL PELITA

PELITA, adalah organisasi kepemudaan yang di dalamnya mencakup Agama dan kepercayaan. Semenjak dirumuskan di GKI Rahmani pada 17 Oktober 2011 bersama dengan para Tokoh Agama dan Penghayat, Pemuda Lintas Iman (PELITA) Cirebon lahir. Kami punya mimpi besar untuk menjalin hubungan lebih luas dan hangat, saling memahami dan bahu membahu dalam membangun bangsa terutama di Cirebon. Kami selalu melakukan kegiatan bersama dengan berbagai latar kehidupan agama dan keyakinan yang berbeda. Dengan ini, harapan semakin nyata wujud toleransi dan kebersamaan yang coba kami bangun.

Hari Sumpah Pemuda: Titik Pijakan Awal

Secara Historis, Sumpah Pemuda diikrarkan pada 28 Oktober 1928. Sehingga, memperingati hari Sumpah Pemuda –di mana seluruh pemuda Bumi Putera dari lintas ras, budaya, agama, kala itu dipersatukan dalam satu tekad melawan imperalisme-kolonialisme Belanda- adalah sebuah keniscayaan. Nyaris di setiap sekolah penjuru tanah air, instansi pemerintah dan masyarakat umum memperingatinya dengan berbagai macam cara. Intinya satu hal: sumpah pemuda menandaskan betapa persatuan dan kesatuan merupakan ihwal mutlak terciptanya bangsa Indonesia yang kuat dan tangguh.

Tak ayal, melalui semangat peringatan Sumpah Pemuda itulah, membuat satu cerita menarik sekaligus anugerah tersendiri. Bermula dari kiriman short Messages (SMS) yang dikirim oleh K.H. Marzuki Wahid, untuk memperingati hari Sumpah Pemuda 28 Oktober di tahun 2011. Redaksi sms tersebut substansinya memberi dua tawaran kepada mahasiswa ISIF untuk membuat Sumpah Pemuda Gusdurian ataukah Sumpah Pemuda Lintas Iman. Urun -rembuk di belakang Kampus, membuahkan hasil Sumpah Pemuda Lintas Iman dipilih sebagai peringatan 28 Oktober.

Setelah melakukan koordinasi dengan para pemuda, hingga akhirnya disepakati untuk berkumpul di GKI (Gereja Kristen Indonesia) Rahmani Kota Cirebon tanggal 17 Oktober 2011. Pada pertemuan pertama tidak ada pemuda dari perwakilan selain Islam yang hadir. Maka disepakati untuk melakukan pertemuan yang kedua pada tempat yang sama. Baru di pertemuan yang kedua, ada beberapa pemuda dari perwakilan setiap agama yang hadir. Orang-orang yang hadir pada waktu itu adalah : Moh. Rifqi (ISIF/Islam), Abd. Rosyid (ISIF/Islam), DEVIDA (ISIF/Islam), Ihabuddin (Fahmina/Islam), Rosidin (Fahmina/Islam), Yohanes (Katoik), Iswanto (Kristen), Edi Santoso (Kristen), Musa Rannu (Kristen), Petrus Juanna (Katolik), Nyoman Resep (Hindu), Yohanes Paiular (Hindu), Murjiah (ISIF/Islam), Yanto (Buddha), Abdulah (ISIF/Islam), Sukanda (ISIF/Islam), Lucky (JKI Anugrah/Kristen), Petrus G. (JKI Anugrah/Kristen), Fredy (JKI Anugrah/Kristen), Maria Dwi A. (Grj. St. Yusuf/Katolik), YB Sugianto (Grj. St. Yusuf/Katolik) , Krisna S (Buddha).

Singkat Cerita, dalam pertemuan itulah lahirnya Sumpah Pemuda Lintas Iman, yang merupakan cikal bakal PELITA. Rapat kedua di GKI Rahmani untuk melakukan pemilihan siapa yang nanti akan menjadi ketua panitia. Secara aklamasi DEVIDA terpilih menjadi ketua dan M. Rifqi menjadi sekertaris. Sugi dan Maria dari Katolik menjadi wakil ketua dan bendahara. Setelah selesai rapat di sela-sela obrolan santai sambil turun dari tangga gereja. Marzuki Wahid sedikit berkomentar kepada ketua panitia. “acara ini tidak mungkin berhasil, saya sering mengadakan acara seacam ini dan ternyata gagal terus”. Ketua penitia hanya senyum-senyum saja mendengar ucapan tersebut. Namun ia berkata “coba saja dulu pak”.

Tercapainya kesepakatan di meja bukan berarti selesai. Bahasa tersebut mungkin tidak berlebih, kenyataan lapangan yang berliku, kami sampai berfikir ternyata kesepakatan di greja belum final. Kebimbangan melanda, ke mana kami harus mengirim surat kepada agama-agama lain. Kebutaan awal tentang peta kawasan agama yang ada di cirebon, tidak menyurutkan kami untuk tetap mewujudkan impian. Terkadang hanya sekedar bekal nama tetua agama kami menyambangi dan mencoba untuk menelusurinya setiap informasi yang kami dapat dari orang-orang yang kami temui sebelumnya.

Dalam menapak tilasi perjalanan dan eksistensi PELITA di wilayah 3 Cirebon sejauh ini, utamanya guna mengisi celah-celah dan ruang-ruang ikatan toleransi dan perdamaian antar sesama pemeluk agama dan keyakinan, maka dari itu organisasi kepemudaan yang independen ini membentuk basis kerja berdasarkan kebutuhan masyarakat dewasa ini.

Pertama, poros Civil-Society.
Program dan kegiatan di poros ini memfokuskan diri pada wilayah akar rumput masyarakat. Fokus itu sendiri mencakup relasi agama dengan masyarakat dan masyarakat dengan masyarakat. Tujuananya berfungsi merekatkan jalinan persatuan dan kerjasama dalam bidang apapun, di antara masing-masing pemeluk umat beragam dan keyakinan. Pada poros ini, Departemen Bulanan dan Departemen Sosial-Kemasyarakatan adalah dua koordinasi yang mengemban tugas tersebut.

Kedua, Poros Political Society.
Program dan kegiatan di poros ini memfokuskan diri pada wilayah kebijakan publik dan regulasi hukum di Indonesia. Tentu hal ini mencakup relasi negara-masyarakat-agama. Dalam kinerjanya, yang mencakup koreksi, dokumentasi dan advokasi di dalam konteks Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Adalah Departemen Parelegal dan Departemen Riset-Kajian Ilmiah yang menjadi dua komando di isu-isu toleransi dan perdamaian secara kolektif