Selayang Pandang Pesantren Kempek Gempol Cirebon

Selayang Pandang Pesantren Kempek Gempol Cirebon

Oleh: Hj. Afwah Mumtazah, M.Pd.I

Santri dan Pesantren

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia ( KBBI) kata pesantren berasal dari kata pe-san-tren yang berarti tempat santri atau tempat murid-murid belajar mengaji. Yaitu belajar materi-materi kitab-kitab klasik dan kitab-kitab umum yang tujuan akhirnya adalah untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari serta menjadikannya sebagai pedoman dalam agama, moral serta etika, khususnya dalam tata cara beribadah dan bermasyarakat.

Pesantren menurut Manfred adalah gabungan dua suku kata sant (manusia baik) dan tra (suka menolong) sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik, sementara Geertz menyatakan bahwa pesantren berasal dari bahasa India Shastri yang berarti ilmuwan Hindu yang pandai menulis, sehingga pesantren adalah tempat bagi orang-orang yang pandai menulis dan membaca. Beberapa pengertian diatas, menurut penulis jika diterjamahkan secara bebas pesantren adalah lembaga yang didalamnya terdapat siswa-siswi (santri) yang dididik untuk mengerti akan ilmu agama, ilmu umum, ketrampilan dalam satu sisi, dan dalam sisi lain adalah tempat belajar kemandirian, kepekaan, toleransi serta mampu memutuskan sesuatu secara cepat. Semuanya ditujukan untuk bekal santri ketika hidup bermasyarakat kelak.

Sejarah Pesantren Kempek

Pesantren Kempek didirikan oleh Kiai Harun, putra dari Kiai Abdul Jalil yang berasal dari Desa Kedondong. Dalam rekam sejarah Kiai Abdul Jalil dulunya bernama Mustam, ia adalah putra dari Kiai Mardan bin Brojo yang berasal dari Pekalongan. Beliau mengembara dalam menuntut ilmu hingga ke Prapatan Majalengka hingga akhirnya diambil menantu oleh seorang kiai setempat, dinikahkan dengan putrinya yang bernama Nyai Kamali. Kiai Abdul Jalil tidak lama menetap di rumah keluarga isteri, beliau berhijrah ke Kedongdong untuk membangun pesantren. Dari beliau lahir Kiai Harun, salah seorang putra yang menjadi cikal bakal pendiri Pesantren Kempek.

Pesantren Kempek didirikan pada tahun 1908. Keputusan memilih Kempek sebagai pesantren berdasarkan hasil istikhoroh diantara dua tempat yaitu Budur dan Kempek. Konon Kempek adalah sarang kejahatan, dan penduduknya banyak yang abai terhadap agama. Berdasarkan pemikiran ini, Kiai Harun mantap memilih Kempek sebagai tempat didirikannya pesantren. Kiai Harun memiliki dua isteri, yaitu Nyai Mutimah dan Nyai Ummi Laila. Dari kedua isteri ini beliau dikaruniai 12 putra-putri. Beliau wafat pada tanggal 23 Maret 1935. Selanjutnya pesantren dilanjutkan oleh putra-putra beliau, dibantu oleh menantu-menantunya. Awalnya Kiai Yusuf sebagai putra tertua yang menggantikan ayahnya. Kiai Yusuf menikah dengan putri KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta yang bernama Nyai Hindun. Pada fase ini mulai didirikan pesantren putri yang pertama kalinya. Sayangnya Kiai Yusuf tidak dikaruniai umur panjang, dan meninggal dunia dalam usia yang sangat muda sekitar 35 tahun dengan dikaruniai seorang putri yang bernama Nyai. Jazilah. Sepeninggal beliau pesantren digantikan oleh adiknya yaitu KH. Umar Sholeh. Pada masa ini pesantren berkembang pesat. Pengelolaan pembelajaran pesantren dikelola secara bersama-sama, saling bahu-membahu dengan adik dan ipar-ipar beliau seperti KH. Aqil Siroj, KH. Nashir, Kiai Hasan, Kiai Maksum, Kiai Muslim, Kiai Judhi dan lain-lain. Kiai Umar wafat pada 3 Dzul Hijjah 1999 dengan meninggalkan seorang putra H. M Nawawi.

Sepeninggal KH. Umar, Pesantren Kempek semakin mengepakan sayapnya menjadi beberapa pesantren yang tersebar disekitar pesantren utama seiring dengan lahirnya generasi kedua dan ketiga, meskipun cikal-bakalnya sudah berdiri ketika beliau hidup, seperti Pesantren MTM asuhan KH. Aqil Siroj dan KH. Hasan. Beberapa pesantren yang diasuh oleh putra-putri Kiai Harun antara lain :

  1. Pesantren Kempek Utara diasuh oleh H. M Umar Nawawi
  2. Pesantren Kempek Al-Gadhir diasuh oleh KH. Musthofa ‘Aqil
  3. Pesantren MTM Al-Jadied diasuh oleh KH. Niam Dan H. Muhamad BJ
  4. Pesantren MTM Al-Qodiem diasuh oleh H. Ahmad

Untuk No 2, 3, dan 4 tergabung dalam satu yayasan, yaitu KHAS, yang pada perkembangan berikutnya menjadi nama Pesantren KHAS

  1. Pesantren Al-Munawwiroh diasuh oleh Nyai. Jazilah Yusuf
  2. Pesantren Al-Husna diasuh oleh Kiai Hamdan dan Nyai. Nafisah Hasan
  3. Pesantren Al-Fadlu diasuh oleh Ust. Rofii
  4. Pesantren Timur diasuh oleh Nyai. Aminah Hasan

Profil Pesantren Kempek

Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional yang terfokus kepada pembelajaran agama, dan siswanya disebut santri. Lembaga ini dipimpin seorang guru yang disebutnya dengan kiai, atau ustad. Dalam pesantren terdapat bilik-bilik asrama tempat santri menginap, madrasah tempat santri belajar, aula, hingga musala atau masjid. Pesantren adalah lembaga yang unik, tertandai dengan kemandirian dan mempunyai kekuasaan secara otonom khususnya dalam peraturan, tata tertib, dan kurikulum pembelajaran yang tidak bisa diintervensi oleh manapun.

Santri hidup bersama bimbingan para kiai dan para ustad. Kegiatannya dimulai dari fajar menjelang hingga malam, atau full day school. Tidak hanya transfer keilmuan yang cukup diberikan dalam kelas seperti sekolah-sekolah pada umumnya (proses ta’lim) tetapi juga proses afeksi dalam luar kelas, khususnya pendidikan etika dan moral sebagai aplikasi pembelajaran dalam kelas (proses ta’dib)

Sebagai lembaga pesantren, Pesantren Kempek memiliki kriteria-kriteria tersebut diatas, hanya Pesantren Kempek mempunyai kekhasan khususnya dalam pembelajaran Al-Qur an. Sejak dulu tetap mempertahankan pola khas dalam pengajian Qur an. Sehingga orang sering menyebutnya dengan istilah “ngaji kempekan”. Pada perkembangannya sekarang, Kempek tidak terfokus pada pendidikan tradisional semata, pesantren melengkapinya dengan pendidikan yang berorientasi umum dan modern. Lembaga pendidikan dari TK (Taman Kanak-kanak) hingga pendidikan menengah atas dapat ditemukan disini. Tidak terbatas dalam kajian keagamaan saja, kegiatan ekstra kurikuler juga diarahkan pada kegiatan yang bersifat pengembangan potensi dan minat yang dimiliki santri seperti paskibra, kursus hadroh dan angklung, drama atau teater, komputer, olahraga, pidato dan lain-lain. Meskipun begitu, pesantren tetap melestarikan nilai-nilai tradisi salaf sebagaimana warisan pendahulunya. Ini dibuktikan tetap lestarinya tradisi pesantren salaf seperti acara haul, tahlil, mauludan, marhabanan, debaan, burdah, sima’an Qur an dan semacamnya.

Secara visi dan misi setiap Pesantren Kempek mempunyai persamaan, yaitu mencetak generasi yang bertaqwa, berahlak mulia, berjiwa qur ani serta siap menghadapi tantangan zaman. Harapan kedepan, kelak Pesantren Kempek menjadi lebih baik dalam hal menjadi rujukan tentang toleransi, aktif serta responsif menghadapi isu-isu yang ada dalam masyarakat secara umum, sehingga pesantren tidak lagi dianggap sebagai sarang teroris, atau wadah pendidikan teroris, seperti opini yang tercitrakan selama ini.


*Penulis adalah Rektor Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) dan Pengasuh Pesantren Kempek Utara.

*Tulisan ini merupakan pengantar bahan dialog bersama dalam pertemuan bulanan,  14 Januari 2016, di Pesantren Kempek Cirebon.

Tinggalkan Balasan