Teroris Tak Lahir dari Agama

Teroris Tak Lahir dari Agama

sumber foto : Warta Islami Masa Kini

Oleh  : Taufik Fathoni

Bom bunuh diri di Surabaya terjadi dalam waktu yang berdekatan dan hampir berurutan dengan ditolaknya gugatan HTI di PTUN dan penyanderaan oleh napi teroris di Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Ada atau tidaknya dugaan keterkaitan dari tiga peristiwa itu memang masih membutuhkan pendalaman. Namun yang pasti, ketiga peristiwa itu berhubungan erat dengan gerakan kelompok Islam radikal anti Pancasila yang memandang Indonesia sebagai negara thogut.

Munculnya pemahaman Islam yang radikal sebetulnya sudah mulai tampak sejak menjelang berakhirnya era Orde Baru. Mulanya ditandai dengan kemunculan kelompok tekstual-literal yang melakukan gerakan pembid’ahan, pemusyrikan dan bahkan pengkafiran, terhadap banyak amaliyah yang bersumber dari ajaran di pesantren-pesantren tradisional seperti tahlilan, yasinan, ziarah kubur dan lainnya. Berangkat dari pemahaman yang tekstual pula, mereka menolak Pancasila sebagai ideologi bangsa dan harus diganti dengan sistem khilafah.

Dengan dasar pemahaman seperti itulah lalu ada yang mendirikan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan ada pula yang mendirikan organisasi lain seperti Jama’ah Anshorut Daulah (JAD) dan sejenisnya, yang kemudian berbaiat atau sekedar menjadi simpatisan ISIS.

Melalui organisasi-organisasi ini mereka menciptakan ancaman terhadap keselamatan negara, termasuk di antaranya ada yang melakukan kekerasan dengan teror bom.

Aksi terorisme seperti itu tentu saja merupakan kejahatan besar terhadap kemanusiaan. Dan walaupun pelakunya selalu mengaku sedang memperjuangkan Islam, namun sejatinya mereka justru sedang merusak Islam. Sebab, sebagaimana dikatakan Syaikh Ali Jum’ah, ” terorisme tidak mungkin terlahir dari agama. Ia hanya produk dari akal yang tidak sehat , hati yang keras dan jiwa yang sombong (merasa benar sendiri,)”.

Sangat tepat jika Nahdlatul Ulama (NU) sebagai Ormas Islam terbesar di negeri ini sejak awal sudah berada di barisan paling depan dalam menghadapi kelompok Islam radikal, dan selalu mengutuk aksi-aksi teror yang mengatasnamakan Islam. Walaupun akibatnya pengurus dan ulama NU sering dibully di media sosial, namun komitment NU tetap tak tergoyahkan.

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan